
Saya melihat trailer film Merah Putih: Trilogi Merdeka ini pertama kali di bioskop beberapa minggu yang lalu, saya memperhatikan sungguh-sungguh karena tertarik dan penasaran. Tapi kemudian setelah trailernya selesai saya harus bertanya pada teman saya yang duduk di samping saya waktu itu, “Judulnya apaan sih itu tadi?” dan teman saya menjawab enteng, “Merah Putih..” seolah mungkin saya melewatkannya. Tapi tidak, saya tidak melewatkan melihatnya, saya melihat tulisan “Merah Putih” itu hanya saja saya pikir itu bagian dari teks introduksi yang muncul sebelumnya.
Pertanyaannya, kenapa saya sampai tidak tahu kalau ITU judulnya?
Menurut saya, pemilihan dan ukuran huruf yang hampir sama serta pengulangan penggunaan dua warna (merah-putih) berselang seling tiap kata dalam teks introduksi yang muncul berganti-ganti pada trailer film membuat saya melewatkan judulnya. Penggunaan jenis huruf, warna, dan ukuran yang sama memang bisa jadi bumerang karena judul menjadi tersamarkan oleh teks lain sehingga tingkat prioritasnya menjadi rendah. Penekanan pada judul dapat dicapai dengan memaksimalkan berbagai aspek desain seperti warna, ukuran, ketebalan, jarak antar huruf, spasi antar baris, ruang kosong, penggunaan huruf besar/kecil, penggunaan latar/background, ornamen/hiasan, dan masih banyak lagi.
Pada saat awal film, muncul teks mengenai pengarah gambar, pengarah fotografi, pengarah suara, dan beberapa nama aktor yang bermain. Untuk teks yang muncul lebih dari satu baris, keterbacaannya menjadi agak membingungkan karena pembagian warna merah dan putih menjadi lebih menonjol, seolah seperti menuntun mata untuk membaca kebawah padahal seharusnya menyamping per-baris. Namun demikian, saya pikir tipografi judul pada poster dan websitenya tidak ada masalah.
Memang seringkali tipografi dalam film Indonesia kurang digarap, terkadang bagian opening tampak sangat biasa padahal filmnya menarik. Mungkin kebanyakan orang awam tidak memperhatikan namun bukan berarti menjadi tidak penting, karena hal sekecil apapun bisa dimanfaatkan menjadi nilai lebih.
Bagaimana menurutmu?


4 Comments:
hehe.. ikutan bahas dikit ya mow.. se-sok taunya saya.. :D
you are so typo! hehehehe (dibaca dengan nada singlish)
kl gw ya mow :
gw suka film ini secara cinematography (SOK BGT!).. mantap bgt, pewarnaan, cutting adegan, pengambilan angle n musiknya juga oke..
walo secara teknis mirip bgt sama band of brother.. tapi untuk ukuran film indonesia ini okeylah ya..
yang gw sayagin bgt adalah adegan perang di hutan. angle dah ok, warna oke banget.. tapi ceritanya dangkal dan nggak sama sekali mencekam.. malah lebih keren waktu serangan di sawah, yang trakhir... hohohoho...
itu menurut saya ya mow...
smuga crita yang ke 2 lebih okey lagih.. :)
wee,...eee,...ee,..mow nie blog km yah,..wah sip2.
iya dink koment film merah putih yah btw film nie sebenarnya film bagus tapi masih kurang disana sini tapi biar bagaimanapun ravel tetep acungin jempol buat nie film,n' nie film kalo di lombakan mungkin hanya meraih nominasi kale yah coz ide crita ma ending film nih masih kurang bgt.
thx ,mow kayaknya cmn segituh ajah dech yang laen ntar dech,...hehehehe^ ^
gw bacanya tadi merah trilogi-putih merdeka..
soal filmnya sendiri lom nonton =_= korea lemot soal pelm...*ga nyambung*
-atri-
Wah wah :D makasih udah pada mampir dan komentar..
@worldofchacha - iya, memang adegan di hutan itu lemah banget, banyak adegan belandanya cuma keliatan sedikit tapi ternyata critanya mereka udah terkepung..du du du
@ravel - iya, endingnya ngga banget!! hahaha
@atri - ngga se-worthed itu buat dicari juga sih tri :D no worry..
Post a Comment